Amfetamin = Shabu = Speed = Glass = Quartz = Hirropon

Minggu lalu di Sydney saya sempat banyak berdikusi dengan teman saya dari BNN. Diskusi sambil lalu ini tentang kira-kira sekarang apa saja drug choice yang menjadi pilihan penyalahguna napza di Indonesia dan bagaimana trend kedepannya. Pada siang hari sebelumnya, saat kami sedang berada di fasilitas rehabilitasi di Sydney, saya sempat ngobrol-ngobrol dengan salah seorang pasien yang berwarga negara Somalia. Tahu sendiri kan Somalia terkenal dengan bajak lautnya. Juga kekerasan dan tindakan kriminal menjadi  sangat umum di Somalia. Pasien atau klien ini seorang perempuan muda yang cukup cantik dan berumur sekitar 21 tahun. Klien ini datang ke Australia pada saat umur 15 tahun bersama kakak perempuannya. Pada umur tersebut dia sudah dikenalkan oleh kakaknya dengan “speed”, nama lain dari amfetamin type stimulants (ATS) yang di Indonesia populer dengan nama “shabu-shabu”. Yang menarik adalah, setelah lima tahun menggunakan speed, dia merasa sering mendengar suara-suara tapi nggak ada orang nya. Nah lohhhh,…. Dalam bahasa medis itu disebut dengan Schizophrenia. Teman saya dari BNN menimpali bahwa memang sekarang tren penggunaan napza di Indonesia adalah shabu-shabu. Kalangan artis sudah banyak yang menggunakannya. Kemudian dia mulai menyebutkan sejumlah nama artis Indonesia yang menggunakan Shabu. Saya jadi miris nih, bagaimana kondisi lima tahun kedepannya ketika banyak orang saat ini menggunakan shabu. Saya khawatir lima tahun lagi akan banyak orang dengan gangguan jiwa psikosis atau schizophrenia. Untuk itu dalam tulisan kali ini saya akan coba membedah tentang ATS atau amphetamine type stimulants lebih lanjut.

Amfetamin

Efek amfetamin hampir mirip seperti adrenalin namun mempunyai efek kerja yang lebih lama. Obat ini bekerja dengan cara yang mirip dengan kokain dimana akan membuat penggunanya merasa energik. Amfetamin bekerja dengan cara seperti adrenalin, yaitu sebuah hormon yang diproduksi secara alami dalam tubuh manusia. Zat ini di kalangan pengguna napza dikenal sebagai “upper” yang mana dapat menurunkan nafsu makan dan akan menyebabkan pengguna tidak mempunyai rasa lelah. Mengkonsumsi satu paket amfetamin akan memberikan efek langsung yang bekerja dalam waktu 15 sampai 30 menit. Apabila dihisap (snort) maka akan menimbulkan yang lebih cepat (5 hingga 10 menit). Apabila disuntikkan akan memberikan efek yang seketika dan langsung.

Bagaimana Amfetamin Mempengaruhi Otak?

Ketika seseorang menggunakan “upper”, zat tersebut akan merangsang sistem saraf pusat penggunanya. Zat  bekerja pada sistem neurotransmiter  norepinefrin dan dopamin otak. Menggunakan amfetamin dapat menyebabkan otak untuk menghasilkan tingkat dopamin yang lebih tinggi. Jumlah dopamin yang berlebih di dalam otak akan menghasilkan perasaan euforia dan kesenangan yang biasa dikenal sebagai “high.”

Seiring berjalannya waktu, orang yang menggunakan shabu akan mengembangkan toleransi terhadap zat amfetamin yang terkandung di dalam Shabu. Toleransi artinya seseorang akan membutuhkan dosis yang lebih tinggi untuk mendapatkan efek yang sama. Jika sejumlah dosis yang dibutuhkan tidak terpenuhi maka pengguna zat amfetamin akan muncul perasaan craving/withdrawal atau dikenal dengan perasaan sakaw.

Sensasi yang ditimbulkan oleh amfetamin

Sensasi yang ditimbulkan akan membuat otak lebih jernih dan bisa berpikir lebih fokus. Otak menjadi lebih bertenaga untuk berpikir berat dan bekerja keras, namun akan muncul kondisi arogan yang tanpa sengaja muncul akibat penggunaan zat ini. Pupil akan berdilatasi (melebar). Nafsu makan akan sangat ditekan. Hasrat ingin pipis juga akan ditekan. Tekanan darah bertendensi untuk naik secara signifikan.  Secara mental, pengguna akan mempunyai rasa percaya diri yang berlebih dan merasa lebih happy. Pengguna akan lebih talkative, banyak ngomong dan meningkatkan pola komunikasi dengan orang lain. Karena seluruh sistem saraf pusat terstimulasi maka kewaspadaan dan daya tahan tubuh juga meningkat. Pengguna seringkali berbicara terus dengan cepat dan terus menerus. Amfetamin dosis rendah akan habis durasinya di dalam tubuh kita antara 3 sampai 8 jam, Setelah itu pengguna akan merasa kelelahan. Kondisi ini akan membuat dorongan untuk kembali “speed-up” dan kembali mengkonsumsi satu dosis kecil lagi, begitu seterusnya. Penggunaan bagi social user dimana biasanya hanya menggunakan amfetamin pada akhir minggu biasanya menjadi tidak bisa mengontrol penggunaannya dan banyak yang berakhir dengan penggunaan sepanjang  minggu penuh, mulai dari Sabtu ke Jumat, begitu seterusnya.

Efek Dari Amfetamin

Karena efeknya yang menimbulkan kecanduan dengan adanya toleransi dari zat yang dikonsumsi, maka zat ini juga akan menimbulkan efek secara fisik. Begitu seseorang telah kecanduan amfetamin, maka orang tersebut harus kembali menggunakan amfetamin untuk mencegah sakaw (withdrawal). Karena efek yang ditimbulkan amfetamin bisa boosting energi pada penggunanya, maka efek withdrawal  yang paling sering muncul adalah kelelahan. Pengguna zat ini kemungkinan juga akan membutuhkan waktu tidur yang lebih lama dan sangat sensitif/mudah marah pada saat dibangunkan. Begitu efek obatnya hilang, pengguna yang tadinya tidak merasa lapar kemudian menjadi sangat lapar. Pada beberapa kalangan selebriti, penggunaan zat ini sering digunakan sebagai obat untuk menurunkan nafsu makan. Namun sebenarnya sama saja karena nafsu makan akan kembali meningkat setelah efek obatnya hilang. Itulah sebabnya banyak selebriti perempuan yang mati-matian menjaga berat badannya dan akhirnya berakhir pada kecanduan amfetamin.

Depresi juga merupakan efek withdrawal yang paling sering pada pengguna amfetamin. Pada kasus-kasus yang berat malahan dapat menimbulkan tentamen suicide (hasrat ingin bunuh diri). Karena efek depresinya ini terkadang pengguna dapat menjadi orang yang berlaku sangat kasar.

Efek Jangka Panjang

Selama jangka panjang, seseorang yang menggunakan amfetamin secara teratur akan menemukan tanda-tanda efek samping jangka panjang yang biasanya terdiri dari :

  • Pandangan kabur
  • Pusing
  • Peningkatan detak jantung
  • Sakit kepala
  • Tekanan darah tinggi
  • Kurang nafsu makan
  • Nafas cepat
  • Gelisah

Pada  penggunaan zat terus menerus akhirnya akan menimbulkan gangguan gizi dan gangguan tidur. Pengguna akan lebih rentan untuk sakit apapun karena kondisi kesehatan yang secara keseluruhannya buruk.

Amfetamin Psikosis

Efek penggunaan jangka panjang bisa menimbulkan kondisi yang disebut dengan amfetamin psikosis. Gangguan mental ini sangat mirip sekali dengan paranoid schizophrenia. Efek psikosis ini juga bisa muncul pada penggunaan jangka pendek dengan dosis yang besar.  Kondisi psikosis inilah yang tidak disadari oleh kebanyakan pengguna amfetamin. Karena efeknya baru muncul jangka panjang maka sering kali efek ini disalah artikan. Pengalaman dari negara-negara lain yang sudah lebih lama muncul penggunaan amfetamin, telah banyak korban dengan gangguan psikosis atau gangguan kejiwaan yang parah.

Tentunya Anda tidak ingin efek kesenangan sesaat dibayar mahal di kemudian hari bukan?