Perlukah Upaya Legalisasi Ganja?

Sekumpulan anak muda yang mengatasnamakan dirinya Lingkar Ganja Nusantara (LGN) mendeklarasikan sebuah Marijuana March sebagai bagian dari sebuah insiasi global. Gerakan ini dilakukan pada tanggal 7 Mei yang lalu. Harus diakui bahwa upaya untuk mengangkat isu ini cukup berhasil. Paling tidak beberapa headline harian online maupun offline sempat menuliskan beberapa berita tentangnya. Beberapa stasiun televisi juga sempat meliput secara khusus, bahkan ada aktifisnya yang diwawancarai untuk mengemukakan pendapatnya melalui media elektronik. Saya cukup salut dengan upaya penggalangan media yang saya nilai berhasil.

Terlepas dari benar tidaknya isu yang diangkat, saya tidak mencoba membenarkan atau menyalahkan terhadap isu tersebut. Saya hanya akan memberikan opini sebagai seorang masyarakat umum. Sebagai seorang ayah dari anak-anak saya.

Secara farmakologis, ganja yang mengandung THC telah diekstrak untuk kepentingan medis. Beberapa tahun yang lalu saya sempat memperoleh tablet Marinol yang berisi THC. Artinya ganja murni. Marinol ini banyak dipakai untuk kepentingan end of life treatment atau perawatan paliatif. Biasanya perawatan paliatif dilakukan pada pasien-pasien yang harapan hidupnya sudah tipis. Karena efek anti nyerinya yang baik, dan kemampuan memberikan rasa menyenangkan yang cukup prima, maka marinol banyak dipakai sebagai drug of choice dalam paliatif care. Dalam pemilihan obat harus memperhatikan efek samping obat (ESO). Hampir setiap obat memiliki ESO. Ada yang ESO nya minimal dan ada pula yang ESO nya cukup berat. Kemoterapi misalnya. Meskipun ESO nya cukup berat, namun tidak ada pilihan lain untuk eradikiasi sel-sel kanker ganas yang telah menyebar. Jika ada cara lain selain kemoterapi tentunya akan dipergunakan metode lain terlebih dahulu. Analgetik atau pereda rasa nyeri juga memiliki efek samping. Yang paling banyak misalnya adalah gastritis atau perasaan tidak nyaman pada lambung. Sedangkan THC memiliki efek jangka panjang berupa penurunan fungsi kognitif. Saya tidak bicara dalam jangka waktu hari. Penurunan ini didapat jika terjadi penggunaan THC dalam dosis yang terus menerus dan konsisten. Bisa berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Jadi kalau yang baru nyimeng seminggu-dua minggu atau sebulan-setahun (apalagi yang cuman on-off), jangan bangga bahwa tidak terjadi penurunan fungsi kognitif. Coba dulu diuji dengan beberapa tools uji kognitif. Itulah sebabnya mengapa Marinol dipakai sebagai drug of choice pada perawatan paliatif atau end of life treatment. THC tidak digunakan sebagai pereda rasa nyeri pada pasien sakit gigi misalnya.

Bagaimana dengan upaya legalisasi ganja yang mengupayakan agar ganja dapat dipergunakan untuk pengobatan? Kegiatan ini sepertinya terlambat (Orang Indonesia memang biasanya suka telat mikir, he he he,..). Upaya ini sudah lama dilakukan dan obatnya pun sudah memasuki uji klinis fase empat. Artinya sudah legal digunakan untuk kepentingan medis. Kalau sudah legal lalu kenapa pada demo-demo mengupayakan agar ganja dilegalkan secara medis? Lha tanyakan saja pada patung Pak Tani di Menteng. Aku sendiri juga ora mudheng,… (mungkin akunya yang telat mikir, he he he). Jadi upaya legalisasi ganja kalau alasannya medis sama saja dengan menggarami laut. Lha wong sudah asin kok pake digaramin,…

Namun sekali lagi saya harus angkat topi terhadap upaya media coverage yang berhasil dilakukan. Ya mungkin saja karena isunya cukup sensitif dan kontroversi. Masyarakat masih menyukai hal-hal yang sifatnya kontroversi. Coba Anda bikin gerakan upaya legalisasi korupsi. Minimal nama Anda akan cukup dikenal di media. Lebih mudah untuk blowing isu-isu yang kontroversial daripada isu-isu yang kosntruktif. Mau tau buktinya? Beberapa paragraf di bawah ini adalah contoh isu-isu konstruktif yang tidak booming. Coba kita tandingkan isu-isu konstruktif dengan isu yang diangkat oleh LGN.

Rumah Cemara (RC) tahun ini diundang untuk mengikuti Homeless World Cup di Prancis. Ini merupakan ajang piala dunia bagi kaum minoritas. Ginan, sebagai salah satu dedengkot RC, membuat sebuah kampanye di twitter dan facebook bahwa dia akan jogging dari Bandung-Jakarta apabila ada yang mendanai 80% dari seluruh biaya. Saya tanya berapa sih 80% itu? Hanya 120 juta saja kok. Sangat jauh dengan anggaran jalan-jalan anggota DPR ke Melbourne beberapa waktu lalu yang mengingatkan kita betapa katrok nya anggota DPR yang tidak punya alamat email resmi. Bagaimana dengan nasib kampanye ini? Nyaris tak terdengar. Kalah pamor dibandingkan isu yang diangkat oleh LGN.

Tiga pelajar SMA di Bantul berhasil mengembangkan energi listrik dari ekstrak daun sambiloto. Keberhasilan ini diakui dunia sebagai sebuah terobosan teknologi yang terbarukan. Namun bagaimana gemanya? Nyaris tak terdengar.

Dua pelajar asal Surabaya dan Bandung berhasil meraih medali perunggu dalam kompetisi Senior Balkan Mathematical Olympiade tingkat SMA di Lasi, Rumania. Indonesia baru pertama kali mengikuti kompetisi dan cukup membanggakan karena langsung meraih medali. Namun apakah isu ini cukup dikenal?

Paduan Suara Mahasiswa UNHAS menyabet dua medali emas dalam ajang American International Choral Festival di Reno-Tahoe, Nevada, pada 6-8 Mei 2011. Unhas justru dikenal sebagai kampus yang suka tawuran. Ketika Unhas meraih medali emas tidak ada yang meliput.

Natalia Rialucky, berhasil menjadi juara 1 Speakers Contest the 12th ASEAN University Network Educational Forum baru-baru ini. Apakah Anda mengetahuinya ?

Saya ngebut aja ya,… Seorang remaja Indonesia meraih medali emas dalam olimpiade fisika di Israel. Gugun Blues Shelter resmi menjadi band pembuka Bon Jovi di London mengalahkan 40 band lainnya dari seluruh dunia.  Seragam away dan home Manchester United musim depan dibuat di Indonesia.

Cerita-cerita di atas adalah update berita dalam 2 minggu belakangan ini. Terlalu banyak hal-hal baik yang terjadi di Indonesia tapi sayang tertutup oleh isu tidak jelas dan “telat mikir”.  Saya punya teman baik seorang warga negara Malaysia. Biasanya kalau ada isu-isu sensitif menyangkut hubungan Indonesia vs Malaysia saya langsung mencak-mencak ke sahabat saya ini. Dan sahabat saya bisa memakluminya. Termasuk isu mengenai klaim batik dan reog oleh Malaysia dan kasus penggunaan sinar laser oleh supporter Malaysia. Namun kali ini saya benar-benar tertohok ketika teman saya dari Malaysia mengolok-ngolok Indonesia karena sekumpulan anak mudanya berupaya melegalkan ganja. Yang di Belanda saja saat ini sudah dipikirkan untuk makin memperketat regulasi marijuana.

Sebagai seorang ayah yang mempunyai dua orang anak saya hanya bisa mengelus dada seandainya nanti pada saat remaja anak-anak saya minta duit buat jajan ganja.

 

Tambahan :
Banyak yang menanyakan apa pendapat pribadi saya soal legalisasi ganja. Saya tidak setuju dengan legalisasi ganja, namun saya setuju dengan pemindahan cannabis dari golongan satu ke golongan dua.

Jangan-jangan sedang ada upaya memainkan teknik advokasi tingkat tinggi nih, he he he, klik disini untuk lebih detilnya.

Efek ganja terhadap kesehatan klik disini.

Pengen tahu lebih banyak apakah ganja menyebabkan kecanduan atau tidak klik disini