Survival sex adalah sebuah terminologi yang digunakan ketika seseorang terpaksa melakukan aktifitas prostitusi untuk mampu bertahan hidup. Istilah ini biasanya banyak terjadi pada negara-negara konflik. Oleh karena perang misalnya. Sejak jaman perang-perang besar mulai dari perang di Eropa, Asia dan Timur Jauh, istilah ini sudah dikenal lama. Survival sex sangat berhubungan dengan posisi sosial perempuan yang lebih rendah daripada laki-laki. Dalam berbagai kultur sosial, sampai sekarang, posisi sosial perempuan memang masih rendah bila dibandingkan pria.
Anda tentu kenal dengan istilah Jugun Ianfu, dimana armada tentara perang Jepang melakukan praktek perbudakan seks terhadap perempuan-perempuan daerah aneksasinya. Indonesia walaupun hanya mengalami tiga tahun aneksasi tentara Jepang tapi mempunyai catatan hitam cukup panjang dalam per-Jugun Ianfu-an ini. Apalagi semenanjung Korea yang dikolonisasi oleh Jepang antara tahun 1910-1945, tentunya praktek survival sex disini amat sangat berat.
Dalam situasi kekinian, istilah ini juga dikenal pada perempuan pecandu napza. Dikarenakan faktor reseptor opiat di otak yang meminta asupan opiat secara reguler, sedangkan opiat ini bukanlah barang murah, maka opiat disini berubah menjadi salah satu kebutuhan pokok disamping sandang pangan dan papan. Banyak perempuan yang akhirnya rela menjual diri untuk memenuhi reseptor opiat di otaknya. Istilah nya jual body beli barang.
Sebuah sumber mengatakan bahwa sebagian pekerja seks di Jakarta yang sering mangkal di Jalan Gajahmada-Hayamwuruk dan sekitarnya mempraktekan survival sex terkait dengan kebutuhan akan napza. Saya percaya dengan pernyataan ini karena ketika saya berbicara langsung dengan beberapa diantaranya memang terdapat aktifitas penggunaan napza yang cukup intensif.
Pada pekerja seks kelas atas, alasan survival sex seringkali menjadi alasan utama mereka melakukan praktek prostitusi. Dengan alasan untuk bayar uang kuliah, untuk beli baju-baju baru, untuk beli tas LV, maka praktek survival sex cukup marak di kalangan perempuan “mapan”. Khusus pada kalangan ini, alasan survival sex tidak bisa diterima. Orang masih bisa bertahan hidup tanpa tas LV, tanpa baju baru atau tanpa Blackberry keluaran terbaru. Pola pikirlah yang mendasari perilaku ini. Mengambil shortcut bisa menjadi alasan utama. Padahal setiap shortcut pasti penuh dengan konsekuensi. Pola pikir versus survival sex yang amat sangat berbeda dan tentunya tidak bisa disamakan. Harusnya kalangan perempuan pekerja seks terselubung golongan ini malu kepada para Jugun Ianfu yang benar-benar mempraktekkan survival sex.
Termasuk yang manakah Anda? Apakah Anda masih punya rasa malu ketika menjalankan aktifitas “so called survival sex”?





so? Do u think survival sex is allowed to commit as long as it is reasonable for someone’s life continuity? When did people know prostitution for the first time? I couldn’t imagine if life is getting more difficult and more so people will do anything for survival. Hope not happen.