Bagaimana seandainya pasangan Anda HIV Positif ?

20111224-152858.jpgKerap muncul pertanyaan seperti judul di atas. Misalnya pasangan yang sedang pacaran, kemudian diketahui bahwa salah satunya HIV negatif. Apakah kemudian akan putus cerita cintanya? Atau barangkali pasangan suami istri, ketika ditemukan entah istri atau suami nya positif apakah lalu kemudian akan diceraikan? Penjelasan berikut mudah-mudahan bisa memberikan keterangan yang lebih jelas.

Ada sebuah strategi yang sudah di-endorse oleh WHO semenjak pertengahan tahun 2010 lalu. Strategi itu disebut sebagai Treatment for Prevention. Artinya mengobati secepatnya orang yang terinfeksi HIV untuk mencegah penularan infeksi kepada orang lain. Beberapa jurnal ilmiah telah memilih uji klinis HPTN 052 (HPTN = HIV Prevention Trials Network) sebagai sebuah penelitian yang breakthrough di tahun 2011. Penelitian ini mempunyai premis bahwa pada pasangan heteroseksual yg diskordan (salah satunya negatif), jika mengkonsumsi obat-obatan ARV maka akan menurunkan rasio penularan kepada pasangannya yang masih negatif. Hasil sementara penelitian ini, yang masih akan berlangsung sampai dengan tahun 2015, ditemukan pada Bulan Mei dan dipublikasikan pada NEJM pada Bulan Agustus 2011. Kemudian pada NEJM terbitan tanggal 23 Desember 2011 dikukuhkan sebagai salah satu dari Top10 Scientific Breakthrough.

Penelitian HPTN052 secara meyakinkan berhasil membuktikan bahwa obat antiretroviral (ARV) tidak saja berguna dalam pengobatan tetapi juga sangat bermanfaat untuk pencegahan. Temuan ini tentu saja membawa dampak kesehatan masyarakat yang cukup penting.

Penilitian ini dikepalai oleh Myron Cohen MD, direktur Institute for Global Health (IGH) di University of North Carolina di Chapel Hill, yang juga headquarter nya Family Health International (FHI) tempat kerja saya dulu. Penelitian dimulai tahun 2005 dengan melibatkan sebanyak 1.763 pasangan diskordan yang tersebar di Botswana, Brazil, India, Kenya, Malawi, Afrika Selatan, Thailand dan USA. Sayangnya FHI Indonesia tidak ikut serta dalam penelitian ini. Mungkin karena sulitnya mencari ijin etika penelitian dan masih besarnya stigma dan diskriminasi tentang HIV dan AIDS. Peserta penelitian kemudian secara acak dibagi menjadi dua grup.

Pada grup pertama, pasangan yang terinfeksi HIV sesegera mungkin mengkonsumsi kombinasi tiga obat ARV. Pasien ini secara intensif dilakukan konseling mengenai pentingnya minum ARV secara konsisten. Hampir seluruh peserta pada grup ini mengalami supresi total kadar virus HIV dalam peredaran darah. Artinya viral load nya undetectable.

Pada grup yang kedua, pasangan akan mengkonsumsi ARV segera setelah kadar CD4 berada di bawah 250. Pada grup ini juga dilakukan konseling yang intensif pada saat setelah mulai konsumsi ARV.

Meskipun penelitian ini baru akan selesai tahun 2015, namun data sementara menunjukkan bahwa hanya satu orang pasangan yang terinfeksi HIV pada grup pertama dan 28 orang yang terinfeksi pada grup kedua. Atas hasil sementara yang menggembirakan ini DSMB (Data and Safety Monitoring Board) memerintahkan untuk segera melakukan public release.

Keberhasilan pencegahan HIV melalui penelitian HPTN 052 ini menjadi salah satu kunci strategi pencegahan HIV yang kemudian di endorse oleh WHO. Strategi kesehatan masyarakat menjadi lebih sempurna dengan adanya treatment for prevention ini.

Berdiri sendiri, treatment for prevention tidak akan menyelesaikan masalah global HIV dan AIDS. Namun ketika digunakan bersama-sama dengan metode pencegahan yang lain seperti deteksi dini, penggunaan kondom konsisten, perubahan perilaku dan pencehahan dari ibu ke anak (PMTCT) strategi pencegahan HIV menjadi lebih lengkap. Harapan zero new infection di tahun 2020 sepertinya menjadi hal yang tidak mustahil lagi.

Jadi yang punya pasangan HIV positif jangan terus diputusin ya cerita cinta nya, he he he….